PONTIANAK, Jum’at 23/10/2026 https://suaraanakkolong.co.id
Industri kratom Indonesia memasuki babak baru. Tidak lagi sekadar menjual daun kering mentah, kini para pengusaha mulai mengembangkan konsep industri kratom bebas limbah (zero waste) dengan menggandeng Badan Karantina Indonesia (Barantin) untuk memacu ekspor hingga 2.000 ton. Konsep ini menjadi kunci untuk meningkatkan nilai tambah petani, terutama di Kalimantan Barat yang selama ini menjadi lumbung kratom dunia.
Langkah ini sejalan dengan kebijakan hilirisasi pertanian yang baru saja diumumkan pemerintah pusat.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan pada Selasa, 21 Oktober 2026 di Istana Merdeka Jakarta menegaskan, Presiden Prabowo Subianto telah menyetujui perluasan hilirisasi dari sektor nikel ke sektor pertanian, yakni komoditas kratom dan kemenyan. Program ini ditargetkan diresmikan pada Maret 2027 mendatang.
“Di bawah Presiden Prabowo, hilirisasi sekarang masuk ke pertanian, termasuk kratom dan kemenyan. Potensinya bisa miliaran hingga puluhan miliar dolar,” ujar Luhut.

Menurut data, nilai ekspor kratom Indonesia ke Amerika Serikat saat ini sudah mencapai US$350 juta atau sekitar Rp5,8 triliun. Sebanyak 96% pasokan kratom dunia berasal dari Kalimantan Barat, khususnya Kabupaten Kapuas Hulu yang tumbuh subur di bantaran sungai Kapuas.
Dari Jual Mentah ke Industri Bebas Limbah
Selama ini, pola perdagangan kratom masih sederhana: petik,o jemur, jual. Akibatnya harga di tingkat petani rendah, hanya sekitar Rp15.000 per kilogram daun kering. Limbah berupa batang, ranting, dan tulang daun yang tidak lolos sortir pun dibuang percuma.
Kini, inovasi bebas limbah yang dikembangkan pengusaha di Kalimantan Timur, seperti yang dikutip dari artikel Pikiran Rakyat Kaltim berjudul “Kembangkan Industri Kratom Bebas Limbah, Pengusaha Gandeng Barantin Pacu Ekspor Hingga 2.000 Ton”, menjadi model baru yang bisa direplikasi di Kalbar.
Konsep zero waste tersebut adalah:
- Daun Kualitas Super: Diolah dengan mesin pengering modern dan digiling menjadi bubuk halus 100 mesh dengan standar mikroba rendah sesuai permintaan pasar Amerika dan Eropa. Harga jual bisa mencapai US$25-35 per kilogram.
- Batang dan Ranting: Tidak lagi dibuang. Diolah menjadi briket arang ekspor dan bahan baku pakan ternak.
- Sisa Sortiran dan Debu Kratom: Diolah menjadi ekstrak kental (extract) untuk bahan baku industri farmasi, suplemen kesehatan, dan kosmetik yang nilainya 10 kali lipat lebih tinggi.
Dengan model ini, 100% bagian tanaman kratom termanfaatkan, tidak ada limbah yang terbuang, dan ekonomi sirkular berjalan.
Peran Krusial Barantin untuk Tembus 2.000 Ton
Menggandeng Barantin menjadi kunci untuk mencapai target ekspor 2.000 ton. Pasar ekspor, terutama Amerika Serikat, sangat ketat soal keamanan pangan dan kontaminasi.
Barantin melakukan pendampingan end-to-end, mulai dari:
- Good Agricultural Practices (GAP): Pengawasan budidaya di kebun agar bebas dari pestisida berbahaya.
- Good Manufacturing Practices (GMP): Pengawasan proses sortasi, pengeringan, dan pengemasan yang higienis.
- Tindakan Karantina: Fumigasi dan uji laboratorium untuk memastikan bebas Salmonella, E. coli, dan logam berat.
- Sertifikasi: Penerbitan Phytosanitary Certificate (PC) dan Sertifikat Kesehatan yang menjadi paspor agar barang lolos di pelabuhan tujuan.
“Tanpa sertifikat Barantin, kratom Indonesia akan ditolak di US Port. Dengan pendampingan ini, daya saing kita naik,” ujar salah satu eksportir di Kaltim.
Peluang Emas untuk Petani Kapuas Hulu
Model bisnis yang dibangun juga melibatkan masyarakat sebagai pemasok utama. Perusahaan butuh bahan baku berkelanjutan, warga lokal menyediakan. Warga tidak lagi sekadar penonton, melainkan pemain inti dalam rantai pasok ekspor.
Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara, Kaltim, bahkan telah menggandeng investor untuk membangun pabrik pengolahan di daerahnya untuk meningkatkan nilai jual dan membuka lapangan kerja baru di sektor sortasi, pengeringan modern, hingga pengemasan.
Jika Kaltim yang baru memulai saja menargetkan 2.000 ton, maka Kalbar sebagai produsen utama memiliki peluang yang jauh lebih besar. Pemerintah pusat juga berencana meresmikan pusat riset genome sequencing di Danau Toba, Sumatera Utara untuk meneliti tanaman lokal bernilai komersial seperti kratom agar bisa menjadi produk farmasi berstandar internasional.
Harapan untuk Pontianak
Dengan adanya kebijakan hilirisasi kratom 2027, diharapkan Kota Pontianak sebagai pintu gerbang ekspor Kalbar bisa menjadi hub pengolahan dan karantina kratom bebas limbah. Petani di hulu tidak lagi menjual mentah dengan harga murah, melainkan mendapatkan nilai tambah yang berlipat ganda.
Reforma agraria dan hilirisasi kratom adalah dua sisi mata uang yang sama: pemerataan akses dan peningkatan kesejahteraan rakyat kecil.
Penulis: Denny- https://suaraanakkolong.co.id Sumber Data: http://kaltim.pikiran-rakyat.com, http://thekabarnews.com, DEN RI, Barantin RI








