Home / Aceh / Nasional / SUARAANAKKOLONG.CO.ID / TNI

Rabu, 7 Mei 2025 - 02:14 WIB

Wali Nanggroe Terima Kunjungan Hamid Awaluddin, Bahas Rencana Penambahan Batalyon TNI di Aceh

SUARAANAKKOLONG.CO.ID, ACEH BESAR – Wali Nanggroe Aceh Paduka Yang Mulia Tgk. Malik Mahmud Al-Haytar menerima kunjungan silaturahmi dari tokoh perdamaian Aceh, Hamid Awaluddin, yang juga mantan Menteri Hukum dan HAM RI, pada Senin, 5 Mei 2025. Pertemuan berlangsung di Meuligoe Wali Nanggroe, Aceh Besar, dan turut dihadiri oleh sejumlah tokoh dan pejabat Aceh.

Hadir dalam pertemuan tersebut Staf Khusus Wali Nanggroe DR. M. Raviq, Teuku Kamaruzaman (Ampon Man), DR. Rustam Effendi, Sekjen Partai Aceh Aiyub Abbas, Ketua Komisi I DPRA Tgk. Muharuddin, serta anggota DPR Aceh Azhari M. Nur Haji Maop.

Salah satu isu krusial yang dibahas adalah rencana Pemerintah Pusat untuk menambah empat batalyon TNI di wilayah Aceh. Menanggapi hal tersebut, Hamid Awaluddin menegaskan pentingnya transparansi dari pusat.

Baca Juga  Cegah Kemacetan dan Kecelakaan, Aipda Hengki Kawal Arus Lalu Lintas di Jam Masuk Sekolah

“Saya baru tahu tentang rencana ini, maka saya mengajukan dua pertanyaan penting: apa urgensinya dan apa relevansinya?” kata Hamid. Ia menambahkan, masyarakat Aceh berhak mendapatkan penjelasan yang rasional agar bisa menilai secara objektif.

Sebelumnya, Wali Nanggroe telah menyatakan bahwa penambahan batalyon TNI bertentangan dengan semangat perdamaian MoU Helsinki 2005 antara RI dan GAM.

“Selama perdamaian berlaku, masyarakat Aceh merasa aman dan pemerintah komit dengan MoU. Bahkan eks kombatan turut menjaga keamanan sejak 2005,” ujar Wali Nanggroe.

Dari sisi geopolitik, menurut Wali, tak ada ancaman signifikan di kawasan ASEAN yang membenarkan penambahan militer. Ia menegaskan bahwa sejarah telah menunjukkan semangat perlawanan rakyat Aceh terhadap kolonialisme, dan kini yang terpenting adalah menjaga komitmen terhadap perdamaian.

Baca Juga  Seorang Security Diduga Tenggelam di Perairan Mahakam, Tim SAR Gabungan Masih Lakukan Pencarian

Ketua Komisi I DPRA, Tgk. Muharuddin, juga menyoroti kurangnya komunikasi antara pemerintah pusat dan daerah terkait rencana tersebut.

“Jika penempatan dilakukan secara sepihak, ini bisa merusak kepercayaan dan mencederai kekhususan Aceh. Bahkan bisa memunculkan trauma kolektif dan memperkuat sentimen negatif terhadap pusat,” tegasnya.

Pertemuan ini menjadi penanda bahwa isu penambahan batalyon TNI di Aceh bukan sekadar kebijakan keamanan, melainkan menyentuh aspek kedaulatan lokal, perdamaian, dan hubungan pusat-daerah yang telah dibangun selama dua dekade terakhir.


Media Suara Anak Kolong
Sumber/Penulis: Tim Liputan Aceh
Editor: Amarizar.MD
Red. Sri Sundari

Share :

Baca Juga

Artikel

Pererat Silaturahmi, Keluarga Besar Anak Kolong (KBAK) Kalbar Gelar Safari Lebaran ke Kediaman Tokoh dan Pimpinan Daerah
GENCARNYA FRAMING LEWAT MEDIA SEOALAH-OLAH TERSANGKA, YULIANSYAH LAPORKAN OKNUM PEMILIK AKUN MEDSOS KE POLDA KALBAR

Anak kolong

GENCARNYA FRAMING LEWAT MEDIA SEOALAH-OLAH TERSANGKA, YULIANSYAH LAPORKAN OKNUM PEMILIK AKUN MEDSOS KE POLDA KALBAR

Anak kolong

KEJATI Kalbar Dinilai Lamban Tangani Berkas Perkara Hingga Berakibat Ketidakpastian Hukum di Masyarakat

Anak kolong

Ketua Gerindra Kalbar H. Yuliansyah Apresiasi Konsistensi PPP di Usia Emas ke-53
Strategi Peningkatan Daya Saing Lulusan SMK di Dunia Kerja

Artikel

Strategi Peningkatan Daya Saing Lulusan SMK di Dunia Kerja

Anak kolong

Anak kolong

H. Yuliansyah Sampaikan Doa dan Harapan di Hari Ulang Tahun H. Ria Norsan
Penutupan Turnamen Bilyard Yuliansyah Cup: Semangat Olahraga dan Kebersamaan di Pontianak

Anak kolong

Penutupan Turnamen Bilyard Yuliansyah Cup: Semangat Olahraga dan Kebersamaan di Pontianak