SUARAANAKKOLONG.CO.ID, BANDA ACEH – Pengacara senior Aceh, Nourman Hidayat, melontarkan peringatan keras terhadap maraknya konten-konten Tiktok yang dianggap merusak moral generasi muda Aceh. Fenomena remaja laki-laki yang tampil feminin dan bergaya “mentel” demi konten viral disebutnya sebagai “penyakit sosial” yang menggerogoti identitas budaya dan moral daerah.
Dalam pernyataan tegasnya, Nourman meminta langsung kepada Wali Nanggroe Aceh, Tgk. Malik Mahmud Al-Haytar, serta mantan Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Muzakir Manaf alias Mualem, untuk turun tangan menyelamatkan arah generasi Aceh.
“Kalau Mualem masih merasa pemimpin bangsa pejuang, ini saatnya bertindak. Bukan cuma seremoni, tapi realisasi. Bangun barak pendidikan karakter. Bentuk ulang anak-anak muda kita sebelum Aceh kehilangan jati dirinya,” tegas Nourman, Minggu (5/5/2025) di Banda Aceh.
Ia menilai sikap permisif pemerintah serta lunturnya wibawa orang tua sebagai penyebab utama maraknya perilaku menyimpang di media sosial. “Ini bukan soal gaya, ini soal masa depan. Aceh sedang diracuni arus globalisasi tanpa filter. Pemerintah terlalu lunak, sementara Mualem diam. Di mana tanggung jawab sebagai simbol kehormatan Aceh?” kecamnya.
Sebagai solusi, Nourman mencontohkan pendekatan yang diterapkan mantan Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, yang mengirim anak-anak bermasalah ke barak militer. Menurutnya, Aceh yang memiliki sejarah perjuangan bersenjata lebih dari layak untuk menerapkan pendekatan serupa.
“Kalau Aceh hari ini hanya melahirkan generasi yang sibuk lipsync dan berdandan demi likes, maka kita sedang menggali kubur peradaban sendiri,” pungkasnya.
Pernyataan kontroversial ini memicu reaksi beragam dari masyarakat. Beberapa mendukung gagasan pembinaan karakter secara militer, sementara yang lain mempertanyakan pendekatan kekerasan terhadap kebebasan berekspresi. Kini, sorotan publik tertuju pada sikap Mualem dan Wali Nanggroe: akankah mereka bertindak atau tetap membiarkan simbol-simbol kehormatan Aceh kehilangan wibawa?
Media Suara Anak Kolong
Sumber/Penulis: Haris
Editor: Amarizar.MD
Red. Miraj Firdaus SH









