SUARAANAKKOLONG.CO.ID, Banten – 4 Mei 2025 Laku spiritual dalam kehidupan manusia tidak selalu harus terwujud dalam bentuk ritual besar dan megah. Kadang, justru dari sikap pasrah dan rasa syukur yang tulus, manusia bisa mencapai kedamaian terdalam dan makna kehidupan yang hakiki.
Dalam diskusi mingguan yang digelar oleh GMRI bersama Sri Eko Sriyanto Galgendu, Pemimpin Spiritual Nusantara, dipaparkan bahwa sikap pasrah bukan berarti menyerah. “Pasrah adalah kesiapan batin untuk menerima keadaan tanpa melawan, dengan tetap tenang dan sadar,” ungkapnya dalam sesi diskusi Senin–Kamis di Sekretariat GMRI, Jakarta Pusat.
Dari kepasrahan itulah, lahir rasa syukur. Bukan sekadar ucapan terima kasih kepada Tuhan, tapi kesadaran mendalam atas nikmat, karunia, dan kebaikan yang diterima—meski dalam kesulitan. “Mengakui nikmat kecil dan tidak membandingkan penderitaan adalah bentuk tertinggi dari syukur,” tegas Sri Eko.
Rasa syukur, lanjutnya, bisa menjadi penawar stres dan kecemasan. Ia membentuk pribadi yang tidak rakus dan lebih lapang dada dalam menghadapi dinamika kehidupan. Ekspresi syukur bisa berwujud doa, pujian, bahkan tindakan sosial seperti sedekah atau memberi dukungan kepada orang lain secara tulus.
Tawakkal, Tawadhu, dan Kesadaran Diri
Tawakkal adalah kepasrahan tingkat lanjut, yaitu keyakinan bahwa segala hasil tidak hanya bergantung pada usaha, tapi juga pada kehendak Ilahi. “Tawakkal mengajarkan kesabaran dan keikhlasan, bahkan di tengah kegagalan,” ujar Sri Eko, sembari menambahkan pentingnya zikir dan doa sebagai bentuk muraqabah atau kedekatan dengan Tuhan.
Tawadhu, atau kerendahan hati, menjadi nilai penting lainnya. Dalam Islam, sikap ini tidak hanya mencerminkan akhlak baik, tapi juga mempererat hubungan sosial dan menghindarkan dari konflik. Orang yang tawadhu cenderung terbuka menerima kritik, saran, dan tidak merasa paling benar atau paling pintar.
“Banyak forum pergerakan hari ini justru kehilangan ruh tawadhu,” kritik Sri Eko. Ia menilai, budaya ‘pasang omong’ tanpa kesediaan mendengar menjadi penyakit laten dalam banyak kelompok aktivis.
Spiritualitas Nusantara sebagai Jalan Keheningan
Diskusi ditutup dengan refleksi spiritual ala kaum sufi: zikir, muraqabah, dan wirid makrifat yang membawa ketenangan dalam hiruk-pikuk zaman. Dalam suasana hening itu, panorama jalan spiritual membentang luas, indah, dan penuh cahaya keikhlasan.
Rasa syukur, sikap pasrah, dan tawadhu bukan hanya nilai moral, tetapi fondasi untuk membangun pribadi yang kuat, lembut, dan bijak dalam menghadapi dunia yang kian gaduh.
Paparan ini merupakan resume dari berbagai penggalan dialog dan diskusi rutin mingguan, Senin-Kamis bersama Sri Eko Sriyanto Galgendu, Pemimpin Spiritual Nusantara di Sekretariat GMRI, Jl. Ir. J. Juanda No. 4 A, Jakarta Pusat
Media Suara Anak Kolong
Sumber/Penulis: Jacob Ereste
Editor: Amarizar.MD
Red. Ilyas








