![]()
Keterlibatan mahasiswa dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang menjadi topik menarik yang menimbulkan berbagai opini, baik itu positif atau negatif. Mahasiswa, disatu sisi dianggap sebagai pilar intelektual bangsa yang memiliki peran penting dalam mengawal demokrasi dan disisi lain keterlibatan mahasiswa juga dianggap sebagai bentuk politisasi yang mengalihkan fokus dari tugas utama mereka yaitu menimba ilmu.
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) memiliki sejarah Panjang dalam membentuk generasi intelektual yang kritis dan berintegritas namun sangat disayangkan fenomena yang terjadi belakangan ini cukup disembunyikan, yakni keterlibatan beberapa kader HMI dalam praktik politik sebelum waktunya. Hal ini tentunya menimbulkan pertanyaan tentang etika dan tujuan sebenarnya dari pengkaderan di HMI. Bukankah hal ini tidak sejalan dengan nilai – nilai yang diajarkan oleh HMI?
Bermain politik sebelum masanya dapat membuat kader HMI kehilangan independensi dan cenderung terjebak dalam pragmatisme politik jangka pendek bukannya tidak boleh tetapi ada waktunya dan sudah ada aturan yang membahas terkait hal ini. Padahal, nilai dasar yang diajarkan dalam HMI adalah membentuk pemimpin yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki moralitas yang kuat dan berpihak kepada kepentingan umat dan bangsa.
![]()
Terjun kedalam politik praktis terlalu dini juga bisa merusak citra HMI sebagai organisasi intelektual, publik saja bisa melihat bahwa “Kader HMI lebih mementingkan karier politik pribadi daripada berkontribusi pada pengembangan umat dan bangsa melalui jalur intelektual dan dakwah. Jika hal ini terus terjadi HMI berpotensi kehilangan esensinya sebagai wadah pembinaan calon pemimpin yang berfikir Panjang, berwawasan luas, dan berintegritas tinggi. sehat sehat kader andalan!
Penulis : Rizky Sulaeman








