JAKARTA, 7 OKTOBER 2026 — Hidupnya bermula dari kesederhanaan di Kabupaten Majalengka. Lahir pada 8 September 1952, Tubagus Hasanuddin adalah anak kelima dari sembilan bersaudara, putra seorang kepala desa yang mengajarkan: hidup paling bermakna ketika bermanfaat bagi sesama. Nilai itulah yang tumbuh bersama dirinya, menuntun langkah dari jalan desa hingga lorong negara, tanpa pernah mengubah hatinya.
KEHIDUPAN AWAL: NILAI DI RUMAH, SEMANGAT DI SEKOLAH
Tumbuh di lingkungan yang sederhana membentuk karakternya yang tahan uji dan rendah hati. Menamatkan pendidikan dasar di Majalengka, ia melanjutkan ke SMA di Magelang, lalu melangkah lebih jauh dengan mendaftar ke Akademi Militer atas saran saudara iparnya. Lulus pada tahun 1974, ia memulai perjalanan pengabdian — bukan mengejar kedudukan, melainkan menepati janji: mengabdi untuk tanah air.
KEHIDUPAN PENGABDIAN: SERAGAM, NEGARA, DAN AMANAT RAKYAT
Selama lebih dari tiga puluh tahun, ia berdiri di barisan terdepan TNI Angkatan Darat. Bertugas di Kodam III/Siliwangi, ikut misi perdamaian dunia sebagai Kontingen Garuda di Irak, hingga dipercaya menjadi ajudan dan sekretaris militer bagi empat Presiden Republik Indonesia berturut-turut — bukti kepercayaan yang tak mudah didapat. Pangkat Mayor Jenderal TNI yang disandangnya bukan sekadar lambang, melainkan hasil kesetiaan, ketegasan, dan tanggung jawab yang tak pernah tergoyahkan.
Pensiun dari dinas militer bukan akhir pengabdian. Ia beralih ke dunia politik melalui PDI Perjuangan, dan sejak tahun 2009 dipercaya rakyat sebagai Anggota Dewan Perwakilan Rakyat — terus dipercaya kembali pada pemilu 2014, 2019, hingga 2024. Di parlemen, ia mengawal kedaulatan negara, pertahanan, dan kesejahteraan masyarakat, khususnya rakyat di daerah pemilihan Jawa Barat IX yang meliputi Majalengka, Subang, dan Sumedang.
Di sela kesibukan, ia tak berhenti menuntut ilmu — meraih gelar sarjana, magister, hingga doktor, serta menulis karya pemikiran tentang keamanan nasional. Baginya, ilmu adalah bekal agar pengabdian semakin bermutu.
KEHIDUPAN PRIBADI: SETIA DAN RENDAH HATI
Di balik kesibukan yang padat, ia adalah sosok keluarga yang setia. Bersama istri tercinta, Ika Eviolina, mereka membangun rumah tangga yang sakinah, mendidik anak-anak menjadi insan yang berguna. Meski telah menduduki jabatan tinggi, ia tetap pulang ke akarnya — menyapa warga, mendengar keluh kesah, dan berbaur tanpa jarak.
“Kedudukan hanyalah titipan. Yang abadi adalah kebaikan yang kita tinggalkan di tengah masyarakat.”
WARISAN HIDUP: TETAP PRAJURIT, TETAP RAKYAT
Kini di usia 74 tahun, Mayjen TNI (Purn) Dr. H. Tubagus Hasanuddin tetap hadir — bukan sebagai pejabat, melainkan sebagai putra daerah yang bangga, warga negara yang taat, dan hamba rakyat yang tak pernah lelah berbakti. Namanya terukir bukan dari kemewahan, melainkan dari kesetiaan yang tak pernah putus: dari Majalengka, untuk Indonesia.
Reporter: Asep Iskandar
Ketua DPC AKPERSI Kabupaten Majalengka, Jawa Barat








