PONTIANAK Suaraanakkolong.co.id 01/04/2026— Di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang setiap tahun menghantui wilayah Kalimantan Barat, Pemerintah Kota Pontianak mengambil langkah yang tidak biasa: membangun strategi mitigasi berbasis infrastruktur air perkotaan.
Di bawah kepemimpinan Edi Rusdi Kamtono, kolaborasi lintas sektor diperkuat bersama Polresta Pontianak, Kodim Pontianak, serta Dinas PUPR Kota Pontianak khususnya Bidang Sumber Daya Air. Fokusnya jelas: normalisasi parit dan optimalisasi sistem kanal sebagai garda depan menghadapi karhutla
Langkah ini bukan sekadar rutinitas pengerukan. Pemerintah kota memposisikan parit dan sungai sebagai *jalur logistik air* yang krusial dalam situasi darurat.
Normalisasi dilakukan melalui pengerukan sedimentasi yang selama ini menghambat aliran air. Dengan aliran yang lebih lancar, mobilisasi air untuk pemadaman menjadi jauh lebih efektif—baik untuk tim darat maupun dukungan pompa dari titik-titik strategis.
Lebih dari itu, pembangunan sekat kanal menjadi game changer. Struktur ini dirancang untuk menahan dan mengatur distribusi air di kawasan rawan kering, sehingga menjaga kelembapan tanah gambut—faktor kunci dalam mencegah api meluas secara masif.
Kehadiran aparat keamanan seperti Polresta dan Kodim bukan sekadar simbolis. Mereka terlibat langsung dalam pengawasan lapangan, pemetaan titik rawan, hingga dukungan personel saat operasi berlangsung.
Sinergi ini menciptakan ekosistem respons cepat:
* PUPR*: eksekusi teknis dan rekayasa infrastruktur
* TNI & Polri: pengamanan, patroli, dan respons darurat
* Pemerintah Kota: kebijakan, koordinasi, dan mobilisasi sumber daya
Model ini menjadikan Pontianak tidak hanya reaktif terhadap karhutla, tetapi mulai bertransformasi menjadi kota dengan pendekatan preventif berbasis data dan infrastruktur.
Beberapa kawasan yang sebelumnya rawan genangan sekaligus rentan kekeringan kini menunjukkan perubahan signifikan:
* Aliran air lebih stabil
* Akses evakuasi lebih cepat
* Titik air untuk pemadaman lebih mudah dijangkau
Ini bukan hanya soal teknis, tetapi soal keamanan warga. Ketika karhutla terjadi, waktu adalah faktor penentu. Dan Pontianak sedang membeli waktu itu—melalui pengerukan, kanal, dan koordinasi.
Di balik alat berat dan peta teknis, ada visi yang lebih dalam. Seperti disampaikan oleh Wali Kota, kebijakan ini bukan hanya tentang angka dan proyek, tetapi tentang melindungi kehidupan:
> “Kami di Dinas PUPR Kota Pontianak memahami bahwa karhutla tidak bisa hanya dilawan saat api sudah menyala. Ia harus dicegah sejak dari struktur dasarnya—dari tanah yang tetap basah, dari aliran air yang hidup, dan dari sistem yang bekerja sebelum bencana datang.” Ir. Firayanta, M.T
Kalimat ini mencerminkan pergeseran paradigma: dari penanganan bencana* menuju *pencegahan berbasis sistem
Langkah strategis ini berpotensi menjadi model nasional, terutama bagi kota-kota yang memiliki karakteristik serupa—wilayah gambut, jaringan air kompleks, dan ancaman karhutla yang tinggi.
Dengan pendekatan integratif antara teknik sipil, manajemen risiko, dan kolaborasi institusional, Pontianak sedang membangun sesuatu yang lebih dari sekadar proyek: sebuah sistem ketahanan kota
Ketika banyak daerah masih berjibaku dengan api yang datang tiba-tiba, Pontianak memilih jalan berbeda—mempersiapkan diri sejak dini. Dari parit-parit kecil hingga sekat kanal strategis, semuanya menjadi bagian dari satu narasi besar:
Bahwa melindungi kota bukan hanya tugas saat krisis, tetapi hasil dari kerja keras yang dimulai jauh sebelumnya.
Penulis : Farhan
Editor : Deny








