Home / Daerah / Kalimantan Barat / Opini / Pontianak / SUARAANAKKOLONG.CO.ID

Rabu, 22 Januari 2025 - 01:28 WIB

Fenomena Anak Berjualan Larut Malam di Pontianak: Paradoks Kota Layak Anak

Oleh: Andre Sarkasi (HmI Badko Kalimantan Barat Bidang Otonomi Daerah dan Demokrasi)
Pontianak, 21 Januari 2025

Oleh: Andre Sarkasi (HmI Badko Kalimantan Barat Bidang Otonomi Daerah dan Demokrasi) Pontianak, 21 Januari 2025

Oleh: Andre Sarkasi (HmI Badko Kalimantan Barat Bidang Otonomi Daerah dan Demokrasi)
Pontianak, 21 Januari 2025

SUARAANAKKOLONG.CO.ID Fenomena anak-anak di bawah umur yang berjualan hingga larut malam di Kota Pontianak menjadi cerminan permasalahan sosial dan ekonomi yang kompleks. Di satu sisi, situasi ini mencerminkan tekanan ekonomi yang besar dalam keluarga, di mana anak-anak terpaksa ikut mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan hidup. Di sisi lain, fenomena ini mengungkap kelemahan dalam perlindungan hak-hak anak, khususnya terkait pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan.

Ironisnya, Kota Pontianak telah dinobatkan sebagai Kota Layak Anak (KLA) dengan status Nindya secara berturut-turut sejak 2020 hingga 2023. Predikat ini seolah berbanding terbalik dengan kondisi nyata di lapangan. Anak-anak yang seharusnya menghabiskan waktu mereka untuk belajar dan bermain malah harus menghadapi kerasnya kehidupan di jalanan.

Dampak Sosial dan Psikologis
Anak-anak yang terlibat dalam aktivitas ekonomi di jalanan menghadapi berbagai risiko. Dari sisi kesehatan, mereka rentan mengalami kelelahan, malnutrisi, dan paparan polusi. Dari sisi psikologis, mereka kehilangan masa kecilnya, dipaksa untuk dewasa sebelum waktunya, dan menghadapi risiko eksploitasi ekonomi serta ancaman keselamatan di lingkungan yang tidak selalu aman.

Tekanan ekonomi keluarga sering kali memaksa anak-anak untuk mengambil peran sebagai pencari nafkah, mengorbankan waktu bermain dan belajar. Kondisi ini tidak hanya merampas hak anak untuk berkembang secara optimal, tetapi juga menciptakan trauma jangka panjang yang dapat berdampak pada pembentukan karakter dan potensi mereka.

Baca Juga  Polsek Ella Hilir Gencar Kampanyekan “Stop PETI”, Edukasi Bahaya Tambang Emas Ilegal

Pendidikan yang Terkorbankan
Dari segi pendidikan, keterlibatan anak-anak dalam aktivitas ekonomi seperti berjualan hingga larut malam mengakibatkan kurangnya waktu untuk belajar, beristirahat, dan bersekolah dengan baik. Hal ini tentu memengaruhi prestasi akademik mereka, yang pada akhirnya memperkuat siklus kemiskinan dalam keluarga.

Pendidikan seharusnya menjadi jalan keluar bagi anak-anak untuk mengubah nasib mereka. Namun, ketika kebutuhan ekonomi jangka pendek lebih diutamakan, masa depan mereka justru terabaikan. Anak-anak yang seharusnya berada di ruang kelas harus berjuang di jalanan, kehilangan kesempatan untuk meraih potensi mereka.

Peran Pemerintah dan Masyarakat
Fenomena ini membutuhkan perhatian serius dan langkah konkret dari pemerintah serta masyarakat. Pemerintah Kota Pontianak perlu memperkuat kebijakan perlindungan anak dengan memperketat aturan terkait pekerja anak, mengimplementasikan program bantuan sosial yang lebih efektif, serta memperluas pelatihan dan bantuan bagi keluarga kurang mampu, terutama yang terkait Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Selain itu, pemerintah juga perlu memastikan keberlanjutan program-program KLA yang bukan hanya bersifat administratif, tetapi benar-benar diterapkan secara nyata. Pengawasan dan evaluasi kebijakan perlu diperketat agar anak-anak Pontianak tidak lagi menjadi korban eksploitasi ekonomi.

Baca Juga  Polres Melawi Amankan 148,02 Gram Sabu, Selamatkan 1184 Jiwa dari Ancaman Narkoba

Di sisi lain, masyarakat juga memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang peduli terhadap hak-hak anak. Edukasi dan kampanye tentang pentingnya pendidikan dan perlindungan anak harus digalakkan. Pola pikir sebagian orang tua yang masih menganggap anak sebagai aset ekonomi keluarga perlu diubah melalui pendekatan yang persuasif.

Kolaborasi untuk Masa Depan Anak-anak
Persoalan anak-anak yang berjualan hingga malam hari di Pontianak adalah tantangan yang tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kerja sama yang solid antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta untuk memberikan solusi yang berkelanjutan.

Hanya dengan kolaborasi yang efektif, anak-anak Pontianak dapat tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang mendukung. Mereka harus dijamin haknya untuk belajar, bermain, dan menjalani masa kecil tanpa tekanan yang mengorbankan masa depan mereka.

Oleh: Andre Sarkasi (HmI Badko Kalimantan Barat Bidang Otonomi Daerah dan Demokrasi) Pontianak, 21 Januari 2025

Pontianak, sebagai kota dengan predikat Layak Anak, memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan setiap anak mendapatkan perlindungan, kesejahteraan, dan akses pendidikan yang memadai. Ini adalah tugas bersama yang tidak boleh diabaikan.

Penulis : Andre Sarkasi (HmI BADKO Kalbar Bidang Otonomi Daerah dan Demokrasi)
Red. Amarizar.MD
Editor : Aulia

Share :

Baca Juga

Daerah

Kodaeral XII Berhasil Temukan Korban Tenggelam di Sungai Kapuas pada Hari Ketiga Operasi SAR

Anak kolong

East Indonesia Malacca Project Institute Akan Laporkan PT Brantas dan CV Project Lima Belas ke Kejati Sultra Terkait Dugaan Proyek Irigasi APBN Rp600 Juta di Desa Puroe Konsel

Anak kolong

Sidak RSUD Sultan Syarif Mohammad Al Qadrie, Wako Edi Kamtono: Tingkatkan Layanan, Jangan Ada Warga Merasa Diabaikan
Yuliansyah , Anggot a Komisi V DPR RI Fasilitasi Pertemuan A wak Kapal Pedalaman dan Pemilik Kapal dengan KSOP Pontianak

Anak kolong

Yuliansyah , Anggota Komisi V DPR RI Fasilitasi Pertemuan Awak Kapal Pedalaman dan Pemilik Kapal dengan KSOP Pontianak
GENCARNYA FRAMING LEWAT MEDIA SEOALAH-OLAH TERSANGKA, YULIANSYAH LAPORKAN OKNUM PEMILIK AKUN MEDSOS KE POLDA KALBAR

Anak kolong

GENCARNYA FRAMING LEWAT MEDIA SEOALAH-OLAH TERSANGKA, YULIANSYAH LAPORKAN OKNUM PEMILIK AKUN MEDSOS KE POLDA KALBAR

Anak kolong

KEJATI Kalbar Dinilai Lamban Tangani Berkas Perkara Hingga Berakibat Ketidakpastian Hukum di Masyarakat

Anak kolong

GAPASDAP Tolak Surat Edaran Ditjen Hubla Tentang SPB

Anak kolong

Ketua Gerindra Kalbar H. Yuliansyah Apresiasi Konsistensi PPP di Usia Emas ke-53